Resensi Buku KKPK “Lovely Lovy” Kak Thia

         السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Siapa yang enggak kenal sama Kak Thia? Itu, lho, penulis cilik yang udah nerbitin banyak buku! 😀 Salah satunya Lovely Lovy.

Foto buku KKPK Lovely Lovy karya Kak Thia

Kita lihat resensi buku KKPK Lovely Lovy karyaku, yuk! 🙂

~~~

Bercerita tentang Lovy yang ingin menjadi penulis, tapi dilarang oleh mamanya. Kata mamanya, belajar harus diutamakan. Tapi benar, sih. Tetapi, kan, Lovy seharusnya dibolehin menjadi penulis, ya? 🙂

Lovy diam-diam membuat naskah tanpa sepengetahuan mamanya. Lovy menulis di warnet tempat ia bolos bimbel dulu. Akhirnya … selesai juga naskahnya. Ia mengirimkannya lewat kantor pos.

Satu bulan kemudian, mama Lovy ditelepon oleh penerbit. Katanya, karya Lovy diterbitkan! Lalu, sifat mama menjadi bangga pada Lovy. Lovy dibolehkan mamanya menjadi penulis. Lovy sangat senang. Mulai saat itulah, Lovy sering mengikuti roadshow.

Namun di balik itu, ada saja haters yang menuduh macam-macam. Ada yang bilang kalau Lovy menyogok penerbit supaya karyanya diterbitkan dan fitnah lain-lain. Tapi Lovy tidak menanggapinya. Ingatlah selalu kalau haters adalah fans yang tertunda. Sampai kemudian, terbongkar siapa haters yang selalu menuduhnya di Facebook. Orang terdekatnya. Orang yang menemani Lovy mencapai cita-citanya. Siapakah itu?

~~~

Yuk, segera beli buku KKPK Lovely Lovy!  Ceritanya sungguh seruuu …!!! Percaya, deh! 😉 🙂 😀

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

 

Resensi Buku Tere Liye “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”

Hai, sahabat Tere Liye …! 😀 Aku akan bahas novel Tere Liye yang judulnya Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Yuk, cekidooot …! 🙂 Resensi ini ditulis oleh http://hawasahara.blogspot.com/

~~~

Judul                           : Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Pengarang                : Tere-Liye
Penerbit                    : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                     : Ketujuh, September 2012
Jumlah halaman    : 264 halaman

 “Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji-janji masa depan yang lebih baik. Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini. Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua. Sekarang, ketika dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah… biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun… daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya”

Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin, berkisah tentang kenangan dan cinta yang dialami oleh seorang gadis cantik dan pintar bernama Tania. Seperti sebuah lego yang disusun satu persatu hingga menjadi utuh, kisah dalam novel yang di tulis oleh Tere Liye ini sanggup menghanyutkan hati pembaca pada setiap potongan ceritanya. Ketika berumur 11 tahun, kerasnya kehidupan membuat Tania dan Dede—adik Tania—terpaksa mencari uang dengan mengamen dari satu bus kota ke bus yang lainnya, hal tersebut mereka lakukan demi menghidupi diri mereka dan sang ibu yang sakit-sakitan. Ayah Tania meninggal ketika Tania berumur 8 tahun.
Sejak saat itu pula kehidupan mereka yang pas-pasan berbalik menjadi serba kekurangan. Tania, Dede, dan Ibunya diusir dari rumah kontrakan lalu memutuskan untuk tinggal di rumah kardus dekat dengan sungai dan tempat pembuangan. Ketika Tania dan Dede sedang mengamen, tanpa sengaja Tania menginjak sebuah paku payung pada telapak kaki tanpa alasnya. Tania kecil mencoba menahan rasa sakit sementara adiknya hanya bisa panik tanpa tahu harus melakukan apa. Orang-orang dalam bus hanya melirik Tania yang kesakitan tanpa rasa iba. Ketika itulah, seorang pria muda datang menolong dan membalut kaki Tania dengan sapu tangan putih miliknya. Pria itu bernama Danar, malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk merubah kehidupan Tania, Dede, dan Ibunya. Lambat laun setelah beranjak dewasa, gadis itu akhirnya sadar bahwa perasaan lugu yang diam-diam tumbuh di hatinya sejak dulu bukanlah perasaan biasa selayaknya seorang adik kepada kakaknya. Danar menjadi pria yang membuka babak baru yang lebih baik dalam kehidupan Tania, juga menjadi cinta pertama baginya. Salahkah perasaan ini? Salahkah bila Tania menyukai seseorang itu, seseorang yang menjadi malaikat bagi keluarganya?

Sudut pandang orang pertama yang digunakan oleh Tere Liye dalam novel ini membuat emosi dan penyampaian melalui sudut pandang Tania menjadi cukup baik dan dapat dinikmati pembaca. Alur maju-mundur yang penulis ingin coba sampaikan dalam bercerita sama sekali tidak membingungkan pembaca. Sang penulis sangat baik dalam merangkai sebuah cerita hingga menemukan benang merahnya. Walau ini adalah kali pertama saya membaca novel karya Tere Liye, nampaknya saya mulai jatuh cinta dengan gaya penulisan yang sederhana namun bermakna khas beliau. Satu hal yang membuat saya ingin memberikan komentar pada novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin yaitu karakter Danar yang saya rasa kurang terlihat dan melekat di dalam cerita. Mungkin karena di dalam novel ini, Tania seolah bercerita mengenai dirinya dan perasaan cintanya, juga ia menceritakan tokoh Danar dari sudut pandangnya.

“…. Daun yang jatuh tak pernah membenci angin…. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya….”

Merapi

Hai, hai …! Apa kabar? Kali ini, aku mau puitis sebentar, yaa! Ini adalah puisi karyaku yang membuatku menang dan mewakili tingkat gugus ke Kecamatan FLSSN 2016 kemarin …. Tapi akhirnya, aku kalah di Kecamatan, deh. 😦 Ya sudah, ya, in action! 😀

~~~

Merapi

Kau menjulang tinggi

Mencapai angkasa biru

Kokoh tegak berdiri

Menatap angkuhnya mentari

Hujan, terik, tak pernah kau hiraukan

Menjadi saksi, setiap sejarah yang terjadi

Warna biru, membawa kesejukan dalam kalbu

Sumber-sumber mata air yang kau cipta

Mengidupi seluruh makhluk disekelilingmu

Bahkan jauh di luar sana

Bulir-bulir pasirmu, mencipta gedung-gedung tinggi

Petani senyum merekah,

melihat tanaman tumbuh subur,

karena abumu

          Namun kadang, amarahmu datang ….

          Dua puluh enam Oktober dua ribu sepuluh ….

          Guncanganmu sangat dahsyat

          Pekik ketakutan, terdengar di pagi hari

          Kau muntahkan bara api menyala-nyala ….

          Menerjang, meluluhlantakkan … semua yang kau lewati

          Tangis pilu menyayat hati

          Lolongan satwa, tak terperi-peri

          Hancur lebur, semua ….

Merapi, di balik keanggunanmu

Tersimpan murka, yang sewaktu-waktu menyala ….

Tetapi, apapun perilakumu,

kau tetap kebanggaan dan kecintaanku ….

~~~END~~~

      Dah … tamat, deh! 😀 Gimana, bagus enggak? Kalau bagus …. اَلْحَمْدُلِلّهِ

Komentar, yaaaa …. 😀 😀 😀 😉